Awas… Jangan Ada Bencana di “Data Center”!

Berbicara soal ruang server hingga pusat data atau data center mungkin sudah bukan hal tabu. Jika dulu hanya jadi “makanan” bagi perusahaan telekomunikasi atau perbankan, kini kedua hal itu sudah menjadi komponen penting di era teknologi canggih.

Tetapi, sayangnya, pengetahuan akan pentingnya ruang server atau data center tak diikuti dengan standar penyediaannya. Masih sering ditemukan ruang server dengan infrastruktur sekadarnya. Artinya, asalkan ada ruang server saja, itu sudah cukup. Orang sama sekali tak memperhatikan aspek-aspek yang sebetulnya diperlukan dalam membangun, pengadaan, serta keamanan data center.

Masalah pengadaan yang sekadarnya pada data center bisa berakibat fatal. Bayangkan saja, di dalam rak-raknya terdapat server berisi aplikasi dan database, perangkat jaringan dan perangkat lainnya yang terkait dengan sistem operasional perusahaan sehari-hari. Untuk itu, keamanan dinilai sangat penting, karena keberadaan data center merupakan denyut nadi perusahaan.

Penyebab terhentinya operasional

Di dunia teknologi informasi, disaster tidak diartikan secara harfiah. Kasus terhentinya operasional pada data center, misalnya. Apapun penyebabnya sudah dikategorikan sebagai data center disaster.

Untuk itulah, perlakuan pada data center harus khusus, mulai dari struktur bangunan, sumber daya, fasilitas, infrastruktur dan segala hal yang berkaitan dengannya harus sudah memenuhi kaidah dan standar keilmuan yang ada. Salah perlakuan, operasional data center dapat terganggu dan menimbulkan bencana.

Bencana alam tentu bisa jadi salah satu penyebab terhentinya operasional. Untuk itulah, lokasi data center begitu diperhitungkan, jangan sampai berada di kawasan yang berpotensi terkena bencana alam.

Selain bencana alam, terhentinya operasional juga bisa disebabkan oleh gangguan teknis maupun ulah manusia. Untuk gangguan teknis, penyebabnya kerap tidak terduga.

www.shutterstock.com Beberapa kelalaian yang mengakibatkan terganggunya data center diantaranya, kesalahan proses dan input data, pengubahan data, penyebaran virus komputer, perusakan hingga pencurian.

Beberapa contoh diantaranya adalah kegagalan arus listrik dan pendingin yang tidak berfungsi, padahal keduanya dibutuhkan agar panas yang ditimbulkan oleh server bisa distabilisasi. Bila hal itu terjadi, akibatnya bisa jadi fatal, mulai gangguan pada software, hardware, hingga jaringan komunikasi.

Suhu terlalu lembab juga dapat menyebabkan korsleting pada perangkat di dalamnya. Sementara itu, hal lain harus diperhatikan lainnya adalah kebersihan. Rak-rak server yang berdebu juga dapat mengakibatkan gangguan.

Faktor terakhir yang bisa menyebabkan terhentinya operasional data center ialah ulah manusia baik yang bersifat lalai (tidak sengaja) atau disengaja. Beberapa kelalaian yang mengakibatkan terganggunya data center diantaranya, kesalahan proses dan input data, pengubahan data, penyebaran virus komputer, perusakan hingga pencurian.

Untuk itulah, keamanan data center sangat dibutuhkan. Jika keamanan sudah direalisasi, kelalaian akibat ketersengajaan atau yang tidak disengaja dapat diminimalisir. Peluang terjadinya data center disaster juga semakin kecil.

Tak pelak, perlu standar keilmuan dan prosedur khusus pada segala hal yang berhubungan dengan data center. Standar tersebut dikeluarkan oleh beberapa institusi, di antaranya Uptime Institute dan Telecommunication Industry Association (TIA).

Anda mungkin masih ingat dengan ledakan salah satu perangkat pada data center di Jakarta 2012 lalu? Dilansir dari Kompas Tekno, (Baca: UPS di Duren Tiga Terbakar, Beberapa Situs Web Tak Dapat Diakses), kejadian tersebut dipicu oleh salah satu perangkat di dalam data center tersebut mengeluarkan percikan api.

Singkat cerita, usai kebakaran kecil dapat ditangani, asap masih terus muncul. Petugas pemadam kebakaran pun menyiramkan air.

Berangkat dari hal tersebut, muncul dilema tersendiri. Sudah tepatkah penanganan kejadian tersebut? Di sisi lain, semua perangkat dalam data center sama sekali tak boleh bersentuhan dengan air.